Posted by: Kamal on: February 28, 2011
Sungguh, apa yang tertulis
adalah demi ketulusan budi
mewarnai realiti yang tiba-tiba
kontang di akal peradapan
angin menderu mencoret rasa
berkajang protes berdiri
menghakimi segala yang terhias
indah di pakaian tradisi
tinta yang menitis di lembaran
putih sejarah.
Apakah kita tidak mampu lagi
mencoret warna kebenaran
diasak wangi kasturi menghantui
laman manusiawi, kerdil setitis tinta
tidak lagi mampu bersuara melakar
getir kebenaran yang ditandai
teguh pemikiran – seorang sasterawan.
Ke mana lagi mahu dihalakan
setitis tinta ini? Menjadi doa
yang menggembirakan sang pemabuk
atau akan tetap berdiri mewakili
kewujudannya tanpa selindung sangsi.
Sasterawan itu hanya memiliki
seberkas kekuatan dari sisa tintanya
yang tiba-tiba menjadi api
membakar mimpi.
- KAMAL SUJAK
Klang Selangor.
2 Februari 2011
(Mingguan Malaysia,Ahad 27 Februari 2011)
Recent Comments